Shoutbox

17 August 2014

MERDEKA!


Oleh: Liven R
INDRI menatap angka 3 yang berada di samping kiri angka 5 warna merah yang berdiri malu-malu di atas kertas ulangan Matematikanya. Buru-buru dilipatnya kertas itu dan dimasukkan asal ke dalam laci saat dilihatnya geng KIMOY memasuki kelas.
“In, wajah kusut begini, ada apa?”
“Yuhu!” Mendadak Yolanda berseru kegirangan atas angka 98 yang bertakhta angkuh di kertas ulangannya. Yang lain segera memeriksa meja masing-masing dan tersenyum lebar. Hanya Indri yang memiliki wajah belum disetrika!
Medi kembali melirik Indri. “In, dapat berapa?”
Dengan enggan Indri mengangkat tiga jari tangan kiri dan lima jari tangan kanannya.
“Limapuluh tiga?”
Indri menggeleng kuat hingga pipinya yang tembam terguncang. Yolanda, yang terkenal paling pintar di seantero murid kelas satu SMA Satya Negara, tampak memekik tanpa suara dan menutup mulutnya yang menganga dengan tangannya.
“Bagaimana, dong? Aku sudah belajar keras selama dua minggu ini, bahkan sampai jam dua dini hari, hasilnya tetap saja begini….” Indri memasak mimik paling menyedihkan sedunia.
“Yo, bagaimana kalau kamu bantu Indri?”
“Mengajari Indri, maksudmu?” Yolanda memandang pada Karen yang berwajah manis.
Seketika, Indri membelalakkan mata. Secercah harapannya untuk dapat menceraikan predikat ‘pelanggan nilai merah Matematika’ terbit di ufuk Utara hatinya. “Yo, mau, ya? Ajari aku, ya?!”
Yolanda menggaruk kepalanya sejenak. “Bagaimana, ya?”
“Asal nilai Matematikaku tak lagi merah, aku akan melakukan apa pun untukmu nanti…”
“Apa pun?”
“Ya, apa pun!”
Yolanda tersenyum.
“Hidup KIMOY! Hidup Karen, Indri, Medi, Olga, Yolanda! Yes!” Serentak mereka berpelukan. Sementara yang lain sibuk dengan bekal makan masing-masing, berkat geng KIMOY, kelas I-IPA I seketika menjadi ramai bak pasar pagi.
***
Jam istirahat.
Kertas ulangan itu masih terbuka di atas meja dengan dua angka kebanggaan Indri menghadap ke luar, memungkinkan siapa pun yang lewat untuk melihatnya. Ya, melihat betapa roda kehidupan itu selalu berputar dan Indri pun ada kalanya memiliki nilai hitam atas Matematikanya! Tak melulu nilai merah, lho! Batin Indri sibuk cekikikan.
“Terima kasih….” Terhitung telah belasan kali Indri tersenyum bangga atas ucapan selamat yang dilontarkan teman-teman sekelasnya yang lewat dan melihat hasil perjuangannya bersama Yolanda, meski nilai yang didapat hanya ‘cukup’ dan bertengger tepat di batas nilai Kriteria Ketuntasan Minimal, yakni enampuluh lima. Tapi, ini harus dirayakan!
“Med, Ga, pulang nanti kutraktir bakso, ya?! Kalian boleh makan sepuasnya!” Indri membalikkan tubuhnya ke meja di belakangnya.
“Asyik!” Olga bersemangat. Medi menggeleng pelan, “Lagi diet,” ucapnya pelan.
Yolanda tampak masuk kelas dengan tergesa-gesa. Tangannya memegang secarik kertas. Setelah berkeliling di setiap pojok kelas, dia kembali ke tempat duduknya, di samping Indri.
“Tak seorang pun bersedia membawakan puisi di acara HUT RI nanti…,” keluh Yolanda. “Menjadi panitia acara ternyata tak gampang,” imbuhnya lagi sambil membuang nafas berat.
“Yo, lihat ini! Baru saja dibagikan, Yo….” Indri mengibaskan kertas ulangannya. Yolanda menangkapnya cepat. Sesaat, matanya membesar diikuti seulas senyum di bibirnya.
“Hebat, In! Akhirnya….”
“Terima kasih, Yo…! Berkat kamu!” Indri spontan memeluk Yolanda. “Kutraktir bakso pulang nanti. Kamu boleh pesan apa saja yang kamu suka, Yo. Apa saja!”
Mendadak Yolanda seperti teringat sesuatu. Dia menarik kertas yang berisi nama-nama pengisi acara HUT RI yang dicatatnya. Tempat untuk pembaca puisi masih kosong!
“Aku tak mau bakso, Indri, tapi…” ucapannya digantung. Dia menunjuk tempat pembaca puisi kepada Indri. Indri menatapnya tak mengerti.
“Aku ingin kamu mengisi tempat pembaca puisi ini di malam acara HUT RI di sekolah kita tanggal 17 Agustus nanti, In….”
Indri menunjuk hidungnya sendiri dan menggeleng cepat. “Aku? Mana mungkin, Yo. Kamu tahu, ‘kan, aku tak bisa membuat puisi, mendeklamasikannya, apalagi….”
“Puisi akan disediakan oleh teman-teman panitia acara, In, kamu hanya perlu menghafal dan membawakannya dengan baik di hari H nanti.”
“Tapi… tapi… tubuhku begitu gendut, suaraku begitu kecil, wajahku seperti bakpao bengkak, kamu hanya bercanda, ‘kan, Yo?” Indri berharap melihat Yolanda mengangguk, tapi dia kecewa.
“Kita bukan hendak memilih Putri Indonesia, Non Indri. Tenang saja, kamu cocok….” Yolanda mencubit gemas pada pipi Indri.
“Aku demam panggung, Yo. Aku tak pernah ikut acara begituan… lagipula kamu seharusnya memilih yang berpengalaman, ‘kan, supaya acaranya menarik? Itu pastinya bukan aku….” Indri mulai memelas.
“Kami tak mencari yang berpengalaman, In, tapi yang berkemauan.”
“Aku tak bisa….”
“Oh, ya? Terus siapa yang minggu lalu mengatakan akan melakukan apa pun untuk ini?” Yolanda mengibaskan senjata berangka enampuluh lima di tangannya. Indri kelihatannya akan menangis semenit lagi. Segera diraihnya kertas itu dari tangan Yolanda. Sekarang, dia tak tahu harus mencintai kertas ulangan itu atau membencinya.
Olga memandang Yolanda dan Medi bergantian. “In, jadi makan bakso sepuasnya?”
***
Indri memandang lima bait puisi di hadapannya. Satu, dua, tiga…, duapuluh satu baris! Uh! Bagaimana menghafalnya?
Indri memandang jam di pojok kiri atas dinding kamarnya. Pukul 21.35 WIB. Setelah menghela nafas panjang, dia mulai berkonsentrasi menghafal. Tapi, belum satu bait, bayangan dirinya yang berada di atas panggung mulai muncul di benaknya. Berapa pasang mata yang akan melihatnya nanti? Bagaimana kalau dia lupa semua puisi ini nanti? Suara tertawaan penonton dalam bayangannya membuat jantungnya menggigil seketika.
Indri menegakkan punggungnya. Jangan takut. Yang penting adalah menghafal semua puisi ini dulu. Tentang gaya dalam mendeklamasikannya, soal nanti, batinnya.
Lalu, seperti yang sudah-sudah, Indri kembali mengarahkan matanya pada bait puisi di hadapannya. Dan, BLEPPP! Listrik padam!
Oh, Tuhan! Oh, PLN! Bagaimana ini? Setelah seharian tak punya waktu menghafal karena harus sekolah, sekarang tak satu huruf pun terlihat lagi!
Indri berusaha mengingat baris awal puisi yang sempat dihafalnya tadi: Indonesiaku…/ 68 tahun sudah kemerdekaanmu/ negeri kaya dan makmur/ tanah subur air melimpah/ oleh perjuanganmu pahlawan…/ kini… listrik padam! Ya, sampai kata ‘kini’ itulah tadi listrik padam! Indri mengeluh.
“In! Indri…! Ambilkan Mama air dari bak mandi atas, In! Keran airnya tak jalan, nih,” teriakan mama Indri terdengar dari balik pintu kamar mandi.
Indri segera bangkit. Fenomena biasa, air tak jalan jika listrik padam. Sambil meraba-raba mencari senter di laci mejanya, Indri beranjak keluar kamarnya menuju lantai atas, sambil terus menghafal: tanah subur air melimpah....
***

Malam Kesenian HUT RI Sekolah Satya Negara.
Indri telah duduk menanti di balik panggung dengan pakaian dominan merah-putih dan riasan yang menjadikannya tampak lebih dewasa.
Kertas salinan puisi yang akan dibacakannya nanti masih setia di genggamannya. Sesekali dia melirik ke balik layar dan melihat permainan drama perjuangan yang sedang dibawakan siswa-siswi kelas lainnya.
“Indri, habis ini giliranmu, ya?!” Kak Windy, kakak kelas di III-IPA I yang bertugas sebagai pembawa acara, mendadak bersuara mengagetkan Indri yang memang tak berhasil tenang sejak tadi.
“Eh, ohh…, ya. Tapi, jangan dulu, Kak Windy. Aku masih menghafal….”
Kak Windy tersenyum. “Baiklah. Setelah dua nomor lagi, ya?”
“Ya. Eh, jangan… jangan, eh,” Indri menelan ludah dengan susah payah. Entah sejak kapan dia menjadi tergagap bicara.
“Kamu baik-baik saja, Indri?”
“Ehm. Yaa… kalau bisa… kalau bisa aku nomor terakhir saja.”
Kak Windy mengangguk dan berlalu, meninggalkan Indri yang masih sibuk menghafal sambil menata rasa takutnya yang semakin tak karuan.
Kami persilakan Indri Lestari untuk naik ke panggung dan mendeklamasikan sebuah puisi kemerdekaan mewakili seluruh siswa-siswi SMA Satya Negara malam ini, dan sekaligus sebagai penutup acara Malam Kesenian HUT ke-68 RI ini…!
Indri tersentak mendengar namanya dipanggil. Kertas salinan yang telah lecek segera ditinggalkannya. Dengan perasaan takut dan gelisah, dia naik dari belakang dan muncul di atas panggung.
Sebuah mikrofon telah berdiri di tengah-tengah panggung bersama dengan sosok Indri. Seketika Indri merasakan tangannya menjadi sedingin es di kutub. Kakinya terasa gemetaran tak kokoh di tempatnya. Jantung di dalam dadanya menabuh lebih kencang sepuluh kali dari biasanya. Dia memandang ke arah penonton yang terlihat seolah sedang bersiap-siap menertawakannya.
“In, ayo…!” seru Yolanda dari kiri bawah panggung.
Indri tampak gugup, namun segera meraih mikrofon dengan tangannya yang gemetaran. Mulutnya terbuka namun suaranya tak dapat keluar. Sesaat…
BLEPPP! Listrik padam!
Teriakan kecewa terdengar di tengah-tengah penonton. Keadaan gulita seketika. Generator baru berhasil hidup duapuluh menit kemudian.
Kami mohon maaf karena adanya gangguan listrik padam dan malam sudah larut, maka dengan ini acara selesai sampai di sini saja. Terima kasih dan merdeka!
“MERDEKAAA!” Indri membalas salam Kak Windy dengan teriakan paling kuatnya dari bawah panggung; mewakili rasa kemerdekaannya yang sesungguhnya, dan dilanjutkan dengan kalimat: I love u full, PLN!, dalam hatinya.
***

Penulis adalah co-writer/ghostwriter
Blog: myartdimension.blogspot.com/liven-words.blogspot.com

(Diterbitkan Harian Analisa--TRP, 25 Agustus 2013)













05 January 2014

Terompet Tahun Baru


Oleh: Liven R
SUDAH dua hari Ardi melihat penjual terompet Tahun Baru mangkal di depan rumahnya. Terompet aneka ukuran dengan kertas warna-warni yang menarik itu membuat Ardi ingin memilikinya. Siang ini, ketika penjual terompet itu datang lagi, Ardi memberanikan diri keluar dan bertanya harga terompet itu.
“Hanya 15.000 rupiah, Nak,” ujar abang penjual terompet itu.
“Tunggu, ya, Bang.”
Ardi bergegas masuk ke rumah dan mengeluarkan kaleng susu bekas tempat dia menyimpan sisa uang jajannya selama ini. Dihitungnya uang itu.
“Ah, tidak cukup,” desahnya. Setelah dihitung ternyata Ardi hanya memiliki 12.000 rupiah saja. Masih kurang 3.000 rupiah.
Sesaat, Ardi keluar menemui abang penjual terompet kembali.
“Bang, uangku tak cukup. Kembali lagi besok, ya, Bang?”
Abang penjual terompet tersenyum dan mengangguk.
Ardi memandang terompet itu dan membayangkan memiliki salah satu terompet berwarna biru yang tergantung itu. Oh, liburan sekolah beberapa hari ini membuatnya tidak mendapatkan uang jajan dari Ayah. Bagaimana mengumpulkan uang 3.000 rupiah itu?
Malam hari Ardi terus menunggu Ayah pulang. Dia ingin meminta tambahan uang kepada Ayah. Tapi malam ini Ayah tidak pulang cepat. Kata Ibu, Ayah menelepon dan mengatakan malam ini akan pulang larut karena akan mengantar penumpang ke tempat yang sangat jauh. Ayah Ardi adalah seorang supir taksi.
Kelelahan menunggu, akhirnya Ardi tertidur sebelum ayahnya pulang.
Esok hari, Ardi baru bangun menjelang pukul 08.00 WIB, setelah dibangunkan Ibu. Setengah tergesa, Ardi berlari keluar dari kamar menuju ruang keluarga.
“Selamat pagi, Ibu. Di mana Ayah?”
“Ayah sudah berangkat kerja sejak tadi, Ardi, “ ucap Ibu.
“Ada apa, Ardi?” tanya Ibu penasaran.
Ardi hanya menggeleng. “Tidak ada, Bu. Ardi akan mandi sekarang,” ucap Ardi.
“Baiklah. Selesai mandi segera sarapan,” jawab Ibu.
Terompet Tahun Baru 
Teeeetttttt….! Teeeettttt…! Teeeettt…!
Menjelang siang bunyi terompet kembali terdengar. Abang penjual terompet datang lagi. Ardi memandang keluar dari balik jendela. Terompet warna-warni yang tergantung itu membuatnya sedih karena dia tidak bisa membelinya.
Dari jendela, Ardi juga melihat Bu Evi sedang kerepotan menenteng beberapa keranjang dan kantong plastik berukuran besar. Beberapa kali keranjang itu hampir jatuh. Kantong-kantong plastik diletakkan Bu Evi di bangku teras rumahnya. Bu Evi tampak kebingungan.
Ardi segera keluar menghampiri Bu Evi. “Mari kubantu, Bu,” seru Ardi dengan gembira.
“Ah, Ardi, terima kasih…. Kue-kue ini dipesan oleh tetangga di seberang jalan sana. Ibu kesulitan membawanya sendirian,” ucap Bu Evi. “Untung ada Ardi.”
Sebuah keranjang kecil dan sebuah kantong plastik berisi kue segera ditenteng Ardi. Dia berjalan mengikuti Bu Evi menuju ke seberang jalan. Setelah menyerahkan pesanan, mereka kembali.
“Ardi, terima kasih sudah membantu Ibu. Ini untuk tambahan uang jajanmu,” ucap Bu Evi sambil menyodorkan sehelai uang 5.000 rupiah kepada Ardi.
Ardi memandang uang itu dan menggeleng. Dia ingat ayahnya selalu mengajarkan membantu orang lain tak boleh pamrih atau mengharapkan imbalan.
Bu Evi tersenyum dan mengelus kepala Ardi. “Tak mengapa, Ardi. Terimalah…,” ucap Bu Evi lagi.
Akhirnya, Ardi menerima uang itu setelah Bu Evi memaksanya. Sebelum memasuki rumah, Ardi melihat abang penjual terompet masih mangkal di sisi jalan. Ardi teringat uang pemberian Bu Evi. Segera dia berlari ke dalam rumah dan mengeluarkan uang tabungannya. Kini, dengan uang tabungannya ditambah pemberian Bu Evi, dia bisa membeli terompet biru itu.
Teeeeeetttttt…! Selamat Tahun Baru!***

Diterbitkan Harian Analisa (Taman Riang), 5 Januari 2014 

25 December 2013

Natal Putih


Oleh: Liven R

LONCENG istirahat baru saja berbunyi. Sebentar saja ruang kelas III IPA-2 sudah sepi. Seperti biasa, teman-teman pasti sedang menjejali kantin untuk meredam musik keroncong di perut masing-masing.
Tinggal aku sendirian di kelas berteman roti susu yang kubawa dari rumah. Makan atau tidur saja barang limabelas menit? Ah, kalau bukan hari ini ada ulangan Fisika, aku tak akan memaksa untuk masuk.
Kupejamkan mata. Dunia masih terasa berputar.
“Hayo! Pemalas!” Seseorang mencubit pipiku.
Aku membuka mata. Sosok atletis itu tampak memandangku begitu dekat. Refleks, kudorong wajahnya. Dia tertawa.
“Kemarin ke mana?”
“Sakit,” jawabku pelan.
“Oh…, sakit rindu?” tanyanya lagi sambil mengambil duduk di bangku barisan depan, tempat duduk Sanny. “Sebenarnya, kamu tak perlu begitu merindukanku, Erin, toh, kita hanya tak bertemu beberapa hari saja, kamu sudah….”
“Indra!” Aku merasa perlu menghentikan ocehan Indra sebelum dia membuatku mual. “Siapa yang sakit rindu? Aku hanya sedikit demam dan pusing.”
Hening.
Indra menatapku.
 “Ayolah, Erin…, beri aku jawaban. Jadi kekasihku, ya? Aku akan memberimu kado terindah di malam Natal nanti….” Indra menarik tanganku dan memasang mimik serius.
Ups! Lagi-lagi! Mengenal Indra sejak dari bangku SMP, bagiku dia adalah makhluk serba bisa. Ya, Indra bukan hanya pintar di hampir semua mata pelajaran sekolah, tapi juga vokalis grup musik paling bergengsi di sekolah ini. Pastinya, Indra adalah sosok idola dari sekian banyak gadis berok biru maupun abu-abu di sekolah ini. Hanya saja, sifat usilnya belum ada obatnya di dunia!
“Ah!” Kutarik tanganku dari genggamannya. “Aku tak mau. Dasar gombal!”
“Hanya padamu.”
“Buaya!”
“Aku? Buaya?” Indra menunjuk hidungnya. “…hmm, buaya itu bukan sesuatu yang jelek. Buktinya ada penangkaran buaya di negara kita, ‘kan? Kamu pasti senang, sebentar lagi akan bermunculan banyak makhluk seperti aku. Lagipula, ada juga baju yang bermerek ‘Crocodile’. Lumayan, lha....”
“Indra, kamu itu…”
“Tampan? Keren? Aku sudah tahu dan sudah banyak yang memberitahuku, kok.”
“Muka tembok!”
“The Great Wall, dong?”
Indra tertawa senang bagaikan baru menonton film Mr Bean. Aku gondok setengah mati!
“Katakan saja ‘ya’, karena aku tak kuat menerima penolakan lagi….”
Oh, setiap kali berbicara dengan Indra, aku harus berdoa. Dan, doaku terkabul! Lonceng berbunyi!
Indra bangkit untuk kembali ke kelas sebelah, III IPA-1.
“Aku masih menunggu ‘ya’ darimu,” bisiknya sebelum berlalu.
***
Terik di pelataran parkir.
Kulirik jam di pergelangan tangan. Sudah lewat limapuluh menit, Wak Bagus belum juga datang menjemputku. Ponselnya pun tak aktif. Ke manakah dia?
“Non, mau kuantar?”
Kulayangkan pandang ke arah pemilik suara yang duduk di balik setir sedan merah metalik.
“Sudah menunggu lama, ‘kan? Ayo, kuantar….”
            Aku berpikir sejenak. Wak Bagus kemungkinan besar punya urusan lain dan lupa memberitahuku. Ada baiknya aku diantar Indra. Lagipula, limabelas menit lagi mungkin aku akan segera gosong di sini. Tapi…, tunggu dulu! Siapa sosok gadis di sampingnya itu?
“Ehmm…. Sudah satu jam,” ucapku. “…tapi, belum terlalu lama, kok. Tak apa. Aku menunggu di sini saja.” Akhirnya aku menjawab mengingkari keinginan hatiku, demi melihat Ferren mengulaskan senyum untukku dari samping tubuh Indra.
“Astaga! Sudah tigaribu enamratus detik masih dibilang belum terlalu lama? Apa kamu mau menunggu sampai pingsan di sini?”
“Tapi, Wak Bagus sudah dalam perjalanan ke sini, kok.” Aku ternyata berbakat menjadi pengarang!
“Oooo… Benar? Tak nyesal menolak diantar Den Bagus satu ini?”
Apa katanya?! Den Bagus? Yang kumisnya panjang menutupi bibirnya itu? Apanya yang bagus?!
Ferren terbahak sambil memeluk lengan Indra.
“Kesempatan terakhir, nih! Wak Bagus atau Den Bagus?” seru Indra lagi dengan senyumnya.
“Ehm…, ya! Wak Bagus!” Aku mengangguk mantap.
Pun akhirnya mobil merah itu menderu meninggalkanku.
Aku segera berjalan cepat meninggalkan lingkungan sekolah menuju halte terdekat. Semoga saja masih ada angkot yang dapat kutumpangi. Ah, mengapa aku harus menolak tawaran Indra? Bukankah sungguh nyaman duduk di mobilnya daripada kepanasan di sini dan bersesak-sesakan nanti?
Ferren. Mendadak batinku mengeja nama itu. Ternyata apa yang kudengar bukan gosip. Indra memang dekat dengan Ferren sekarang. Berpacarankah mereka? Ah, Ferren yang cantik dan Indra yang tampan, sungguh serasi! Sama-sama berbakat dan vokalis di grup musik sekolah, hanya beda kelompok.
Tapi, entah mengapa dadaku mendadak terasa berat dan sesak, ya? Pelukan Ferren pada lengan Indra tadi. Tatapan manjanya pada Indra. Ada apa ini? Cemburukah aku? Ah, tak mungkin!
Tiga bulan setelah Natal tahun ini, kami akan lulus SMA dan meninggalkan sekolah yang penuh kenangan itu untuk mengejar impian masing-masing. Aku masih ingat Indra pernah mengatakan akan meneruskan kuliah ke Jerman, kota Beethoven, dan mengambil jurusan musik. Sementara aku? Mungkin ke Surabaya atau Yogyakarta. Entahlah…. Pastinya, kami akan berpisah setelah itu.
Bagiku menjalin cinta di masa-masa SMA tak kan bertahan lama. Hanya akan menyisakan kepahitan nantinya. Dan, apa namanya? Cinta monyet—yang konon karena besarnya rasa cinta si monyet pada seekor ikan mas, membuatnya mengeluarkan si ikan mas dari kolamnya dan digantung di pohon untuk ditatapnya tanpa henti, tapi tak disadari rasa cintanya membunuh si ikan mas perlahan dan pasti? Analogi untuk cinta yang menyakitkan!
Lagipula, berapa persentase manusia yang berhasil mempertahankan cinta SMA-nya hingga menjadi pasangan kakek-nenek? Yang kutahu, sembilan puluh persen berakhir menjadi cerita dalam novel-novel roman picisan. Tak Lebih!
Setidaknya aku tahu apa yang dikatakan Indra padaku tadi siang di kelas hanyalah lelucon ala playboy! Huh! Tadi merayuku, sekarang duduk bersisian dengan Ferren, keterlaluan! Aku tak akan begitu bodoh menjadi si ikan mas, mati karena rayuan si monyet, eh, Den Bagus! Ups!
***
Malam Natal.
Pohon cemara yang anggun dengan cahayanya yang gemilang tengah berdiri di dua sisi ruangan. Lonceng keperakan sesekali berdenting mengikuti irama angin yang menyapa. Pantulan cahaya nan indah seakan menyusupkan kedamaian di relung hati terdalam.
Bertahun-tahun, setiap malam Natal aku selalu mengunjungi kapel ini dan mengikuti Misa Natal, sesuatu yang tak akan kulewatkan, terlebih karena grup musik sekolah kami juga turut memeriahkan malam Natal tiga tahun belakangan ini.
“Hai, Erin! Sudah lama?” Sanny merangkulku dari belakang.
“Belum,” jawabku singkat.
“Sudah tahu? Malam ini grup Pioneer tak jadi tampil. Indra terjatuh saat geladi resik tadi sore…,” Sanny mengimbuhkan.
“Apa? Bagaimana keadaannya sekarang?”
“Tenang…, kudengar hanya sedikit cedera di kakinya. Malam ini hanya grup Ferren yang tampil.”
Pantas aku tak melihat Indra dari tadi. Di mana dia sekarang? Sedang kesakitan ataukah sedang bersedih karena tak dapat ikut memeriahkan malam Natal? Mendadak sebersit cemas terbit di hatiku.
Sepeninggalan Sanny, aku segera menyisir lorong-lorong kapel dan mencari sosok Indra. Aneh, bukankah biasanya aku berusaha menghindarinya?
Itu dia! Di undakan depan kapel, Indra yang berpakaian kemeja putih tampak duduk sendirian.
“Hei!”
Indra tak menyahut.
“Hei! Kamu baik-baik saja?”
Indra berpaling kepadaku. “Kamu bicara padaku?”
“Siapa lagi? Di sini hanya ada kita berdua, ‘kan?”
“Ohhh…, tapi aku bukan bernama ‘Hei’.”
Aku mengambil duduk di samping Indra.
“…kalau lain waktu tak tahu namaku, panggil saja ‘Sayang’.”
Kata-kata itu…, ah, syukurlah Indra tak apa-apa.
Aku memandang jauh ke langit malam. Bintang tampak meramaikan kelam. Malaikat di surga pasti sedang berbaris menyambut malam yang kudus ini.
“Erin…,” suara Indra memecah keheningan di antara kami. “Maukah memberiku jawaban di malam yang suci ini?” Indra menatap lekat ke bola mataku. “Aku memang tak dapat menjanjikan malam yang selalu berbintang, juga musim yang selalu semi, tapi maukah saling menjadikan diri sebagai alasan kepulangan kembali di malam Natal dan di kapel ini  kelak, setelah raga kita terpisah antar-negara?”
“Tapi Ferren?” Hanya itu yang terlintas di benakku seketika.
“Ada apa dengan Ferren?” Indra mencubit hidungku. “Dasar tukang gosip! Aku dekat dengannya untuk latihan bersama menyambut Natal ini. Ada yang salah?”
Aku tersenyum. Ada rasa lega mendengar pengakuan Indra. Perlahan Indra menarikku ke dekapannya.
“Merry Christmas…!” bisiknya di sisi telingaku.
Angin berhembus pelan. Suara lonceng berdenting syahdu. Sayup-sayup irama kedamaian membelai kalbu….
Malam kudus…. Sunyi senyap….
***

*Selamat Natal & Tahun Baru kepada teman-teman pembaca yang merayakan!

*Dimuat Harian Analisa, Medan (23 Desember 2012)
*Penulis adalah trainer penulisan;ghostwriter;co-writer

21 December 2013

Kepala Ikan


(Sebuah Dedikasi untuk Mama di Seluruh Dunia)
Oleh: Liven R

            ALKISAH, di sebuah desa nelayan di Tiongkok utara, terdapat sebuah keluarga nelayan yang miskin. Keluarga tersebut terdiri dari enam anggota, yakni Nyonya Zhao dan lima anaknya—empat anak lelaki dan seorang anak perempuan—yang masih kecil. Tuan Zhao telah meninggal dunia dua tahun lalu akibat perahu yang ditumpanginya tenggelam tersapu badai ketika melaut.
            Setelah kematian suaminya, Nyonya Zhao sehari-harinya bekerja mencuci pakaian tetangganya dan membantu membersihkan kapal nelayan yang pulang dari melaut untuk mendapatkan sedikit upah guna menyambung hidup keluarganya dan menyekolahkan anak-anaknya.
Suatu ketika di hari terakhir musim dingin, sesuai tradisi setiap tahun, seluruh penduduk desa tersebut selalu berkumpul bersama keluarga masing-masing dan menikmati makan malam bersama untuk menyambut datangnya Festival Musim Semi (Tahun Baru Imlek).
Sebagai persiapan menyambut festival tersebut, biasanya para nelayan tak pergi melaut selama beberapa hari. Hal ini menyebabkan penghasilan Nyonya Zhao berkurang.
Menjelang malam Festival Musim Semi, dengan berbekal sedikit uang, Nyonya Zhao pergi ke pasar terdekat untuk membeli bahan makanan untuk makan malam keluarganya. Dengan uang yang dimilikinya, Nyonya Zhao hanya mampu membeli sedikit sayuran hijau. Beruntung di tengah perjalanan pulang, Nyonya Zhao bertemu dengan tetangganya yang kemudian menawarkan seekor ikan untuknya secara cuma-cuma.
Berbekal sedikit sayuran hijau dan seekor ikan pemberian tetangganya, Nyonya Zhao kemudian memasak makan malam untuk anak-anaknya. Namun, bagaimana sepiring sayuran hijau dan seekor ikan dapat dibagi untuk enam orang?
Setelah semua anaknya berkumpul di meja makan, Nyonya Zhao kemudian membagikan bagian tubuh ikan tersebut untuk kelima anaknya, sedangkan ia sendiri mengambil bagian kepala ikan.
“Mengapa Ibu tak mengambil bagian tubuh ikan dan hanya mengambil kepalanya saja?” putra sulung Nyonya Zhao bertanya.
“Anakku, kepala ikan adalah kesukaan Ibu. Dan bagi Ibu, kepala ikan adalah bagian yang paling enak,” jawab Nyonya Zhao sambil tersenyum.
Dengan demikian, malam itu mereka juga makan dan berkumpul bersama dengan gembira meskipun dengan lauk seadanya. Dan tanpa persiapan baju baru, mereka tetap melewati Festival Musim Semi dengan gembira.
***
WAKTU bergerak dengan cepat. Empat puluh tahun terlewatkan. Kini, Nyonya Zhao telah berusia 75 tahun dan anak-anaknya telah berkeluarga dan hidup mapan.
Suatu hari, anak-anak dan menantu Nyonya Zhao berunding untuk mengadakan pesta ulang tahun yang ke-75 untuknya. Dan akhirnya disepakati untuk merayakan ulang tahun tersebut di sebuah restoran mewah.
Pada hari ulang tahunnya, dengan dituntun anak dan menantunya Nyonya Zhao berjalan menuju meja yang disediakan untuknya.
Setelah semua undangan hadir, pelayan restoran segera menghidangkan menu yang dipesan. Pada saat penutup hidangan dibuka, alangkah terkejutnya Nyonya Zhao saat melihat sebuah kepala ikan yang besar berada di dalamnya.
“Ibu, kami sengaja memesan kepala ikan ini untuk Ibu, karena kami tahu sejak dulu Ibu paling menyukai kepala ikan,” ucap putri bungsu Nyonya Zhao.
Nyonya Zhao tersenyum kemudian menitikkan airmata.

“Anak-anakku, tahukah kalian aku sesungguhnya tak pernah menyukai kepala ikan? Di masa dulu karena kemiskinan kita, aku harus berbohong kepada kalian setiap kali kita hanya memiliki seekor ikan untuk dimakan berenam. Aku berbohong bahwa aku menyukai kepala ikan, agar kalian dapat makan dengan tenang dan sedikit lebih kenyang dengan bagianku. Kini setelah kalian berpenghasilan cukup dan hidup sukses, apakah aku masih harus memakan kepala ikan?” tanya Nyonya Zhao sambil bercanda kepada anak-anaknya.

***
KASIH sayang seorang ibu kepada anak-anaknya adalah demikian besarnya sehingga ia rela mengorbankan kesenangan diri sendiri demi kebahagiaan anak-anaknya. Dalam perannya, ibu selalu berusaha menelan bagian yang pahit bagi dirinya sendiri dan menyisakan bagian yang manis untuk anak-anaknya.
Sebagai anak, kita hendaknya senantiasa berusaha untuk membalas budi besar ibu meskipun ibu tak pernah mengingatkan kita untuk melakukan hal tersebut.
Semoga dengan selalu mengingat dan membalas budi besar ibu, hamparan permadani surga di bawah telapak kaki ibu senantiasa terbentang menyambut setiap langkah kaki kita.

***
Telah dimuat Harian Analisa, Medan

13 October 2013

Arti Penting Sahabat



Oleh: Liven R
SEBAGAI makhluk sosial, kita senantiasa memerlukan teman atau sahabat sebagai tempat bermain, berbagi cerita (di saat senang dan susah), maupun tempat kita belajar selama menjalani proses kehidupan kita.
Sesungguhnya, untuk ‘berteman’ dengan seseorang, kita hanya butuh waktu beberapa menit saja. Ya, mulailah dengan berkenalan, saling menyapa untuk mengetahui sedikit informasi diri seperti umur dan pekerjaan, jadilah teman! Namun, lain halnya dengan ‘sahabat’. Untuk mendapatkan/memberi label ‘sahabat’, kita membutuhkan waktu seumur hidup untuk mengenali dan membina hubungan pertemanan yang telah ada agar dapat naik ke jenjang yang mana telah pantas disebut ‘sahabat’.
‘Bahwa pertemanan harus membawa dampak positif dan berinteraksi secara positif juga’, demikian sebaris kalimat yang ditulis Reni Erina—Editor Majalah Story—pada status FB-nya beberapa waktu yang lalu saat dia mengaku sedang menghapus beberapa teman FB-nya.
Bagi penulis, kalimat tersebut terdengar sederhana, namun mengandung arti yang mendalam, dan penulis pribadi amat setuju dengan pernyataan tersebut. Mengapa?
Pada dasarnya, sahabat terbagi dua jenis, yakni kalyana mitta dan akalyana mitta—Bahasa Pali, yang berarti sahabat sejati dan sahabat palsu.
Dalam kehidupan sehari-hari, sahabat sejati dapat kita labelkan langsung kepada orangtua dan para guru kita, sebab kita tahu pasti bahwa orangtua dan guru adalah orang-orang yang senantiasa membantu mengatasi kesulitan kita tanpa pamrih dan tak pernah menjerumuskan kita.
Selain guru dan orangtua, tentunya masih terdapat orang-orang yang layak disebut sahabat sejati, yakni mereka yang senantiasa mengajarkan kita hal-hal baik dan selalu mengharapkan kebaikan kita, serta ikut gembira ketika kita mampu mencapai suatu kemajuan dalam hidup.
Lantas bagaimana ciri-ciri sahabat palsu?
Ketika baru memulai sebuah pertemanan, kita tentu tak dapat memastikan dengan cepat dan tepat siapa dan bagaimana sesungguhnya teman baru kita. Seiring waktu (jika kita jeli) biasanya sikap dan sifat bawaan seseorang akan mulai terlihat dan semakin lama akan semakin jelas.
Tak terelakkan bahwa sering kita akan bertemu teman dengan sifat yang beragam, di antaranya yang memiliki sifat ‘pelit’ hingga mendekati ‘kikir’, teman yang hanya ingat untuk bertanya ‘apa kabar?’ ketika dia sedang membutuhkan pertolongan kita, teman yang suka menggosip untuk mengisi waktu luangnya, hingga teman yang siang dan malam ahli mengeluh dengan bahasa melankolis nan lebay bin alaynya. (Hehehe…)
Profesional Muda, disadari atau tidak, ketika kita berinteraksi dan bergaul dengan seseorang/sekelompok orang di suatu lingkungan dalam jangka waktu tertentu secara terus-menerus, meskipun sifat dasar kita sulit terpengaruh, namun perilaku kita lambat-laun akan terpengaruh dan menjadi mirip dengan perilaku orang-orang dalam lingkungan tersebut.
Sederhananya, ketika berada di lingkungan dengan manusia yang berperilaku baik, seseorang akan belajar kebaikan, demikian juga sebaliknya. Selain itu, manusia sering mengubah perilakunya dan meniru perilaku orang lain demi mendapatkan pengakuan dari orang-orang di lingkungan pergaulannya.
Jika dalam pergaulan, kita terpengaruh menjadi sedikit pelit, senang menggosip dan suka mengeluh, tentunya masih wajar selagi hal tersebut tak sampai merugikan orang lain (dan jika bisa tentu saja jangan sama sekali). Namun, menjadi penting dan harus dihindari ketika pergaulan tersebut telah membawa perubahan besar dalam hidup, apalagi menjurus ke hal-hal negatif yang membawa keresahan dalam keluarga dan masyarakat.
Sebuah kisah nyata dari seorang relawan Yayasan Buddha Tzu Chi (yang telah difilmkan dan dirilis oleh DAAI TV sebagai drama seri keteladanan) berikut ini mungkin bisa menyadarkan kita betapa pentingnya memilih teman dalam bergaul:
Sejak kecil AB (lelaki) sering dimarahi dan dipukul ayahnya karena hal-hal sepele. Kasih sayang yang kurang dari ayahnya, membuat AB tertekan dan kecewa dengan kehidupannya. Satu-satunya orang yang selalu menjadi tempatnya mengadu resah hanyalah neneknya.
Singkat cerita, beranjak dewasa AB pun mulai bekerja dengan penghasilan yang minim. Dan oleh seorang sahabatnya, dia kemudian dijanjikan pekerjaan yang lebih baik, namun harus meninggalkan kampung halaman dan tentunya jauh dari neneknya yang tercinta. Namun, untuk membuktikan kepada ayahnya bahwa dia sanggup menjadi manusia yang berguna, dia pun membulatkan tekadnya untuk pergi menyongsong masa depannya.
Sesampainya di kota, AB baru menyadari pekerjaan yang dijanjikan temannya ternyata adalah sebagai kurir narkoba! Untuk kembali, rasanya amat berat karena gengsinya terhadap ayahnya. Ditambah dengan bujukan teman-teman pada geng ‘hitam’ tersebut, akhirnya kurir narkoba pun dilakoni AB.
Hampir setiap malam, ‘teman-teman baik’nya mempertunjukkan dan mengajarinya bagaimana cara mengonsumsi minuman keras (miras) dan narkoba. Anda tahu? Ketika seseorang telah mengonsumsi narkoba, maka dialah calon pelaku serangkaian hal buruk lainnya. Ya, AB menceritakan tak ada satu hal buruk apa pun yang tak pernah dia lakukan kala itu. Mencuri di mobil yang sedang diparkir, berlari dari kejaran polisi, merampok, dan berkelahi ala Street Fighter, adalah kesehariannya.
Masuk penjara dan panti rehabilitasi? Itu pun sudah menjadi langganannya! Bahkan ketika neneknya yang tercinta wafat, dia harus pulang dengan mengendap-endap karena sedang menjadi buronan kepolisian.
Profesional Muda, AB sesungguhnya letih menghadapi kehidupannya yang demikian kacau. Berkali-kali dipenjara, berkali-kali dia merenung dan bertekad untuk kembali ke jalan yang benar jika dia bebas nanti. Namun, setiap kali bebas, wajah pertama yang dijumpai adalah wajah teman-teman dari geng hitamnya. “Kita saudara! Kesulitanmu adalah kesulitanku. Kalau kamu tak mau bergabung lagi dengan kami, itu berarti kamu tak setia kawan! Mari merayakan kebebasanmu dengan minum. Saya yang traktir!” ucapan inilah yang selalu membuat AB kembali berkubang dalam lumpur yang sama.
Berapa banyakkah di antara kita yang selalu mengaku teman dan sahabat bagi orang lain, namun dalam kenyataannya justru menjerumuskan?
Sesungguhnya dalam kasus AB, tak ada yang salah dalam dirinya, ‘pergaulan’ dan ‘sahabat’ yang salahlah yang telah menjerumuskannya!
Dewasa ini, banyak yang berpendapat, tak merokok, tak bisa minum miras, tak tahu mengonsumsi narkoba, berjudi, mengunjungi prostitusi, dan sebagainya, ketinggalan zaman! Bisa merokok, seks bebas, gonta-ganti pasangan hidup, mampu mengonsumsi miras dan narkoba, keren abis!
Profesional Muda, adakah seseorang yang mengaku sahabat Anda mengatakan hal seperti di atas kepada Anda? Jika ada, sanggupkah Anda mengatakan padanya ‘itu salah!’ dan membawanya kembali ke pemahaman yang benar sejatinya? Jika tak sanggup, segeralah angkat kaki dan menjauhlah! Sebab, alih-alih berebut gelar ‘sampah masyarakat’, kita perlu mengasihani diri sendiri dan juga orangtua kita yang telah bersusah payah membesarkan kita!
Ya, bagaimana pun kita adalah manusia biasa. Ketika kita tak sanggup berperan layaknya malaikat yang mampu menyadarkan, maka kita selalu punya pilihan untuk menyelamatkan diri dan tak ikut berbuat yang tak baik. Dan, kita sesungguhnya tak membutuhkan pengakuan ‘setia kawan’ dari orang-orang yang tak menghargai jasmaninya dan arti hidup sesungguhnya.
Kembali ke kisah AB, keluar dari penjara di kali terakhirnya, dia bertekad tidak menemui ‘teman-teman baik’nya terlebih dahulu, melainkan pergi menemui seorang relawan Tzu Chi yang pernah membimbingnya selama di penjara dan mendaftarkan diri menjadi relawan juga. Namun ini tentu tak mudah. Teman-temannya terus berusaha menyeretnya kembali ke jalan ‘hitam’ dengan berbagai cara halus maupun ancaman. Ya, istilah ‘sekali salah jalan, seseorang sulit untuk kembali’ agaknya berlaku juga pada AB.
“Aku kini mengabdikan diri untuk kebaikan orang lain. Apa pun, aku tak ‘kan kembali bersama kalian, meskipun kamu membunuhku!” demikian ucap AB kepada temannya di bawah ancaman pisau di lehernya.
Tak mendapatkan respon, akhirnya teman-temannya pun tak lagi berminat terhadap AB. Sejak itu, AB menjadi relawan Tzu Chi dan rutin mengadakan kunjungan kasih di penjara Taiwan dan menjadi sosok keteladanan bagi para pecandu narkoba yang sedang menjalani masa rehabilitasi narkoba melalui kisah hidupnya.
Kisah AB menunjukkan kepada kita, terhadap sahabat (palsu) yang tak membawa kebaikan bahkan cenderung mendukung perbuatan kita yang salah dan mengajarkan hal-hal yang tak bermanfaat, kita harus mampu mengatakan ‘tidak!’. Dan, meskipun kita pernah salah dalam bergaul dan pernah terjerumus, selalu ada kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar asalkan kita bertekad untuk bertobat.
Sahabat yang baik adalah sahabat yang membawa ke arah kebaikan, mencegah kita berbuat salah dan senantiasa mengingatkan ketika langkah kita mulai menyimpang. Profesional Muda, sudahkah Anda bergaul dengan kalyana mitta dan berperan sebagai kalyana mitta? Semoga kita semua mampu menjadi individu kebanggaan keluarga dan masyarakat!
*Penulis adalah trainer penulisan
Dimuat Analisa, TRP, 4 Agustus 2013