Shoutbox
Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

21 December 2013

Kepala Ikan


(Sebuah Dedikasi untuk Mama di Seluruh Dunia)
Oleh: Liven R

            ALKISAH, di sebuah desa nelayan di Tiongkok utara, terdapat sebuah keluarga nelayan yang miskin. Keluarga tersebut terdiri dari enam anggota, yakni Nyonya Zhao dan lima anaknya—empat anak lelaki dan seorang anak perempuan—yang masih kecil. Tuan Zhao telah meninggal dunia dua tahun lalu akibat perahu yang ditumpanginya tenggelam tersapu badai ketika melaut.
            Setelah kematian suaminya, Nyonya Zhao sehari-harinya bekerja mencuci pakaian tetangganya dan membantu membersihkan kapal nelayan yang pulang dari melaut untuk mendapatkan sedikit upah guna menyambung hidup keluarganya dan menyekolahkan anak-anaknya.
Suatu ketika di hari terakhir musim dingin, sesuai tradisi setiap tahun, seluruh penduduk desa tersebut selalu berkumpul bersama keluarga masing-masing dan menikmati makan malam bersama untuk menyambut datangnya Festival Musim Semi (Tahun Baru Imlek).
Sebagai persiapan menyambut festival tersebut, biasanya para nelayan tak pergi melaut selama beberapa hari. Hal ini menyebabkan penghasilan Nyonya Zhao berkurang.
Menjelang malam Festival Musim Semi, dengan berbekal sedikit uang, Nyonya Zhao pergi ke pasar terdekat untuk membeli bahan makanan untuk makan malam keluarganya. Dengan uang yang dimilikinya, Nyonya Zhao hanya mampu membeli sedikit sayuran hijau. Beruntung di tengah perjalanan pulang, Nyonya Zhao bertemu dengan tetangganya yang kemudian menawarkan seekor ikan untuknya secara cuma-cuma.
Berbekal sedikit sayuran hijau dan seekor ikan pemberian tetangganya, Nyonya Zhao kemudian memasak makan malam untuk anak-anaknya. Namun, bagaimana sepiring sayuran hijau dan seekor ikan dapat dibagi untuk enam orang?
Setelah semua anaknya berkumpul di meja makan, Nyonya Zhao kemudian membagikan bagian tubuh ikan tersebut untuk kelima anaknya, sedangkan ia sendiri mengambil bagian kepala ikan.
“Mengapa Ibu tak mengambil bagian tubuh ikan dan hanya mengambil kepalanya saja?” putra sulung Nyonya Zhao bertanya.
“Anakku, kepala ikan adalah kesukaan Ibu. Dan bagi Ibu, kepala ikan adalah bagian yang paling enak,” jawab Nyonya Zhao sambil tersenyum.
Dengan demikian, malam itu mereka juga makan dan berkumpul bersama dengan gembira meskipun dengan lauk seadanya. Dan tanpa persiapan baju baru, mereka tetap melewati Festival Musim Semi dengan gembira.
***
WAKTU bergerak dengan cepat. Empat puluh tahun terlewatkan. Kini, Nyonya Zhao telah berusia 75 tahun dan anak-anaknya telah berkeluarga dan hidup mapan.
Suatu hari, anak-anak dan menantu Nyonya Zhao berunding untuk mengadakan pesta ulang tahun yang ke-75 untuknya. Dan akhirnya disepakati untuk merayakan ulang tahun tersebut di sebuah restoran mewah.
Pada hari ulang tahunnya, dengan dituntun anak dan menantunya Nyonya Zhao berjalan menuju meja yang disediakan untuknya.
Setelah semua undangan hadir, pelayan restoran segera menghidangkan menu yang dipesan. Pada saat penutup hidangan dibuka, alangkah terkejutnya Nyonya Zhao saat melihat sebuah kepala ikan yang besar berada di dalamnya.
“Ibu, kami sengaja memesan kepala ikan ini untuk Ibu, karena kami tahu sejak dulu Ibu paling menyukai kepala ikan,” ucap putri bungsu Nyonya Zhao.
Nyonya Zhao tersenyum kemudian menitikkan airmata.

“Anak-anakku, tahukah kalian aku sesungguhnya tak pernah menyukai kepala ikan? Di masa dulu karena kemiskinan kita, aku harus berbohong kepada kalian setiap kali kita hanya memiliki seekor ikan untuk dimakan berenam. Aku berbohong bahwa aku menyukai kepala ikan, agar kalian dapat makan dengan tenang dan sedikit lebih kenyang dengan bagianku. Kini setelah kalian berpenghasilan cukup dan hidup sukses, apakah aku masih harus memakan kepala ikan?” tanya Nyonya Zhao sambil bercanda kepada anak-anaknya.

***
KASIH sayang seorang ibu kepada anak-anaknya adalah demikian besarnya sehingga ia rela mengorbankan kesenangan diri sendiri demi kebahagiaan anak-anaknya. Dalam perannya, ibu selalu berusaha menelan bagian yang pahit bagi dirinya sendiri dan menyisakan bagian yang manis untuk anak-anaknya.
Sebagai anak, kita hendaknya senantiasa berusaha untuk membalas budi besar ibu meskipun ibu tak pernah mengingatkan kita untuk melakukan hal tersebut.
Semoga dengan selalu mengingat dan membalas budi besar ibu, hamparan permadani surga di bawah telapak kaki ibu senantiasa terbentang menyambut setiap langkah kaki kita.

***
Telah dimuat Harian Analisa, Medan

13 October 2013

Arti Penting Sahabat



Oleh: Liven R
SEBAGAI makhluk sosial, kita senantiasa memerlukan teman atau sahabat sebagai tempat bermain, berbagi cerita (di saat senang dan susah), maupun tempat kita belajar selama menjalani proses kehidupan kita.
Sesungguhnya, untuk ‘berteman’ dengan seseorang, kita hanya butuh waktu beberapa menit saja. Ya, mulailah dengan berkenalan, saling menyapa untuk mengetahui sedikit informasi diri seperti umur dan pekerjaan, jadilah teman! Namun, lain halnya dengan ‘sahabat’. Untuk mendapatkan/memberi label ‘sahabat’, kita membutuhkan waktu seumur hidup untuk mengenali dan membina hubungan pertemanan yang telah ada agar dapat naik ke jenjang yang mana telah pantas disebut ‘sahabat’.
‘Bahwa pertemanan harus membawa dampak positif dan berinteraksi secara positif juga’, demikian sebaris kalimat yang ditulis Reni Erina—Editor Majalah Story—pada status FB-nya beberapa waktu yang lalu saat dia mengaku sedang menghapus beberapa teman FB-nya.
Bagi penulis, kalimat tersebut terdengar sederhana, namun mengandung arti yang mendalam, dan penulis pribadi amat setuju dengan pernyataan tersebut. Mengapa?
Pada dasarnya, sahabat terbagi dua jenis, yakni kalyana mitta dan akalyana mitta—Bahasa Pali, yang berarti sahabat sejati dan sahabat palsu.
Dalam kehidupan sehari-hari, sahabat sejati dapat kita labelkan langsung kepada orangtua dan para guru kita, sebab kita tahu pasti bahwa orangtua dan guru adalah orang-orang yang senantiasa membantu mengatasi kesulitan kita tanpa pamrih dan tak pernah menjerumuskan kita.
Selain guru dan orangtua, tentunya masih terdapat orang-orang yang layak disebut sahabat sejati, yakni mereka yang senantiasa mengajarkan kita hal-hal baik dan selalu mengharapkan kebaikan kita, serta ikut gembira ketika kita mampu mencapai suatu kemajuan dalam hidup.
Lantas bagaimana ciri-ciri sahabat palsu?
Ketika baru memulai sebuah pertemanan, kita tentu tak dapat memastikan dengan cepat dan tepat siapa dan bagaimana sesungguhnya teman baru kita. Seiring waktu (jika kita jeli) biasanya sikap dan sifat bawaan seseorang akan mulai terlihat dan semakin lama akan semakin jelas.
Tak terelakkan bahwa sering kita akan bertemu teman dengan sifat yang beragam, di antaranya yang memiliki sifat ‘pelit’ hingga mendekati ‘kikir’, teman yang hanya ingat untuk bertanya ‘apa kabar?’ ketika dia sedang membutuhkan pertolongan kita, teman yang suka menggosip untuk mengisi waktu luangnya, hingga teman yang siang dan malam ahli mengeluh dengan bahasa melankolis nan lebay bin alaynya. (Hehehe…)
Profesional Muda, disadari atau tidak, ketika kita berinteraksi dan bergaul dengan seseorang/sekelompok orang di suatu lingkungan dalam jangka waktu tertentu secara terus-menerus, meskipun sifat dasar kita sulit terpengaruh, namun perilaku kita lambat-laun akan terpengaruh dan menjadi mirip dengan perilaku orang-orang dalam lingkungan tersebut.
Sederhananya, ketika berada di lingkungan dengan manusia yang berperilaku baik, seseorang akan belajar kebaikan, demikian juga sebaliknya. Selain itu, manusia sering mengubah perilakunya dan meniru perilaku orang lain demi mendapatkan pengakuan dari orang-orang di lingkungan pergaulannya.
Jika dalam pergaulan, kita terpengaruh menjadi sedikit pelit, senang menggosip dan suka mengeluh, tentunya masih wajar selagi hal tersebut tak sampai merugikan orang lain (dan jika bisa tentu saja jangan sama sekali). Namun, menjadi penting dan harus dihindari ketika pergaulan tersebut telah membawa perubahan besar dalam hidup, apalagi menjurus ke hal-hal negatif yang membawa keresahan dalam keluarga dan masyarakat.
Sebuah kisah nyata dari seorang relawan Yayasan Buddha Tzu Chi (yang telah difilmkan dan dirilis oleh DAAI TV sebagai drama seri keteladanan) berikut ini mungkin bisa menyadarkan kita betapa pentingnya memilih teman dalam bergaul:
Sejak kecil AB (lelaki) sering dimarahi dan dipukul ayahnya karena hal-hal sepele. Kasih sayang yang kurang dari ayahnya, membuat AB tertekan dan kecewa dengan kehidupannya. Satu-satunya orang yang selalu menjadi tempatnya mengadu resah hanyalah neneknya.
Singkat cerita, beranjak dewasa AB pun mulai bekerja dengan penghasilan yang minim. Dan oleh seorang sahabatnya, dia kemudian dijanjikan pekerjaan yang lebih baik, namun harus meninggalkan kampung halaman dan tentunya jauh dari neneknya yang tercinta. Namun, untuk membuktikan kepada ayahnya bahwa dia sanggup menjadi manusia yang berguna, dia pun membulatkan tekadnya untuk pergi menyongsong masa depannya.
Sesampainya di kota, AB baru menyadari pekerjaan yang dijanjikan temannya ternyata adalah sebagai kurir narkoba! Untuk kembali, rasanya amat berat karena gengsinya terhadap ayahnya. Ditambah dengan bujukan teman-teman pada geng ‘hitam’ tersebut, akhirnya kurir narkoba pun dilakoni AB.
Hampir setiap malam, ‘teman-teman baik’nya mempertunjukkan dan mengajarinya bagaimana cara mengonsumsi minuman keras (miras) dan narkoba. Anda tahu? Ketika seseorang telah mengonsumsi narkoba, maka dialah calon pelaku serangkaian hal buruk lainnya. Ya, AB menceritakan tak ada satu hal buruk apa pun yang tak pernah dia lakukan kala itu. Mencuri di mobil yang sedang diparkir, berlari dari kejaran polisi, merampok, dan berkelahi ala Street Fighter, adalah kesehariannya.
Masuk penjara dan panti rehabilitasi? Itu pun sudah menjadi langganannya! Bahkan ketika neneknya yang tercinta wafat, dia harus pulang dengan mengendap-endap karena sedang menjadi buronan kepolisian.
Profesional Muda, AB sesungguhnya letih menghadapi kehidupannya yang demikian kacau. Berkali-kali dipenjara, berkali-kali dia merenung dan bertekad untuk kembali ke jalan yang benar jika dia bebas nanti. Namun, setiap kali bebas, wajah pertama yang dijumpai adalah wajah teman-teman dari geng hitamnya. “Kita saudara! Kesulitanmu adalah kesulitanku. Kalau kamu tak mau bergabung lagi dengan kami, itu berarti kamu tak setia kawan! Mari merayakan kebebasanmu dengan minum. Saya yang traktir!” ucapan inilah yang selalu membuat AB kembali berkubang dalam lumpur yang sama.
Berapa banyakkah di antara kita yang selalu mengaku teman dan sahabat bagi orang lain, namun dalam kenyataannya justru menjerumuskan?
Sesungguhnya dalam kasus AB, tak ada yang salah dalam dirinya, ‘pergaulan’ dan ‘sahabat’ yang salahlah yang telah menjerumuskannya!
Dewasa ini, banyak yang berpendapat, tak merokok, tak bisa minum miras, tak tahu mengonsumsi narkoba, berjudi, mengunjungi prostitusi, dan sebagainya, ketinggalan zaman! Bisa merokok, seks bebas, gonta-ganti pasangan hidup, mampu mengonsumsi miras dan narkoba, keren abis!
Profesional Muda, adakah seseorang yang mengaku sahabat Anda mengatakan hal seperti di atas kepada Anda? Jika ada, sanggupkah Anda mengatakan padanya ‘itu salah!’ dan membawanya kembali ke pemahaman yang benar sejatinya? Jika tak sanggup, segeralah angkat kaki dan menjauhlah! Sebab, alih-alih berebut gelar ‘sampah masyarakat’, kita perlu mengasihani diri sendiri dan juga orangtua kita yang telah bersusah payah membesarkan kita!
Ya, bagaimana pun kita adalah manusia biasa. Ketika kita tak sanggup berperan layaknya malaikat yang mampu menyadarkan, maka kita selalu punya pilihan untuk menyelamatkan diri dan tak ikut berbuat yang tak baik. Dan, kita sesungguhnya tak membutuhkan pengakuan ‘setia kawan’ dari orang-orang yang tak menghargai jasmaninya dan arti hidup sesungguhnya.
Kembali ke kisah AB, keluar dari penjara di kali terakhirnya, dia bertekad tidak menemui ‘teman-teman baik’nya terlebih dahulu, melainkan pergi menemui seorang relawan Tzu Chi yang pernah membimbingnya selama di penjara dan mendaftarkan diri menjadi relawan juga. Namun ini tentu tak mudah. Teman-temannya terus berusaha menyeretnya kembali ke jalan ‘hitam’ dengan berbagai cara halus maupun ancaman. Ya, istilah ‘sekali salah jalan, seseorang sulit untuk kembali’ agaknya berlaku juga pada AB.
“Aku kini mengabdikan diri untuk kebaikan orang lain. Apa pun, aku tak ‘kan kembali bersama kalian, meskipun kamu membunuhku!” demikian ucap AB kepada temannya di bawah ancaman pisau di lehernya.
Tak mendapatkan respon, akhirnya teman-temannya pun tak lagi berminat terhadap AB. Sejak itu, AB menjadi relawan Tzu Chi dan rutin mengadakan kunjungan kasih di penjara Taiwan dan menjadi sosok keteladanan bagi para pecandu narkoba yang sedang menjalani masa rehabilitasi narkoba melalui kisah hidupnya.
Kisah AB menunjukkan kepada kita, terhadap sahabat (palsu) yang tak membawa kebaikan bahkan cenderung mendukung perbuatan kita yang salah dan mengajarkan hal-hal yang tak bermanfaat, kita harus mampu mengatakan ‘tidak!’. Dan, meskipun kita pernah salah dalam bergaul dan pernah terjerumus, selalu ada kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar asalkan kita bertekad untuk bertobat.
Sahabat yang baik adalah sahabat yang membawa ke arah kebaikan, mencegah kita berbuat salah dan senantiasa mengingatkan ketika langkah kita mulai menyimpang. Profesional Muda, sudahkah Anda bergaul dengan kalyana mitta dan berperan sebagai kalyana mitta? Semoga kita semua mampu menjadi individu kebanggaan keluarga dan masyarakat!
*Penulis adalah trainer penulisan
Dimuat Analisa, TRP, 4 Agustus 2013

07 August 2013

Ini Milik Siapa?



Ini Milik Siapa?


KELAS bimbingan telah dimulai sejak setengah jam yang lalu. Aku telah memeriksa dan menentukan apa yang harus dipelajari dan dikerjakan oleh masing-masing anak didikku. Tapi, suara bisikan itu telah menarik perhatianku.
“Halo, kalian berdua, sudah bisa dimulai?” Aku menegur pada dua orang anak didikku yang duduk bersebelahan. Anak kelas tiga dan lima SD. Keduanya berhenti berbisik, melihat ke arahku dan mengangguk.
Aku kembali dengan kesibukanku, membuat soal dan mengoreksi hasil kerja anak didik. Tapi, sesaat aku melihat kedua anak itu masih saling mendorong sesuatu di atas meja mereka, kali ini tanpa suara.
“Huss! Lao Shi (Guru) sedang melihat kalian….” Melihatku memandang mereka, murid lain segera memberi isyarat kepada mereka berdua.
“Apa, sih?” Aku mencoba melihat pada sesuatu yang disodor ke sana ke mari sejak tadi. “Apa itu?” tanyaku penasaran.
Jona dan Jimmy, kedua anak itu, saling memandang.
“Lao Shi, ini punya siapa?” Jona segera berdiri dan menyerahkan sekotak isi dari pensil mechanical berwarna hitam yang masih baru ke mejaku.
Aku memandang kotak kecil itu sesaat dan mengangkatnya tinggi. “Halo…, punya siapa ini?” Aku menggerakkan tangan di udara untuk memperlihatkan kotak kecil kepada seisi kelas. “Ada yang kehilangan?”
Sesaat, semua diam. Mereka menggeleng. Tak ada yang menunjuk tangan.
“Di mana kamu menemukan ini, Jona?”
“Di sini.” Jona menunjuk pada meja, wilayah perbatasan mejanya dengan meja Jimmy.
“Kalau begitu, ini pasti punya salah satu dari kalian berdua…,” aku mencoba menengahi dengan pertimbangan tidak pernah ada penggantian tempat duduk selama bertahun-tahun di antara mereka. Jona selalu duduk bertetangga dengan Jimmy di bimbel kami.
“Itu bukan punyaku, Lao Shi…, punyaku berkotak warna putih.” Jimmy segera membantah, diikuti dengan membuka kotak pensilnya dan mengeluarkan miliknya yang berkotak putih. “Nah, ini punyaku,” lanjutnya lagi.
“Juga bukan punyaku,” ucap Jona sambil mengeluarkan miliknya juga, yang berkotak sama dengan yang berada dalam genggamanku, warna hitam.
“Tapi, ‘kan biasa kamu punya dua kotak, ‘kan? Lagipula kamu, tuh, yang selalu pakai merek ini,” Jimmy menunjuk pada merek kotak hitam.
“Jona, berarti ini punyamu?! Baiklah, simpan dan cepat kerjakan PR-mu! Kalian ini, tulis nama masing-masing, supaya tidak tertukar….” Aku meletakkan kembali isi pensil mechanical itu di atas meja Jona. Sesaat aku meninggalkan mereka untuk kembali pada kesibukanku.
“Punyaku?” tanya Jona lagi.
“Iya, dong, yang pasti bukan punyaku,” jawab Jimmy sambil mengerjakan PR-nya.
Dari tempat dudukku, aku memandang pada Jona. Dia terlihat masih menimang-nimang kotak kecil itu.
“Ah, tapi aku tak yakin ini punyaku…. Sebaiknya jangan diambil….” Dia berucap pelan dan meletakkan kembali kotak kecil hitam itu di atas meja, mendorongnya sedikit menjauh dari barang-barangnya.
 Waktu beranjak dengan cepat. Satu-persatu anak didikku pamit. Tinggallah aku sendirian membereskan meja dari kertas-kertas yang berserak.
Tiba di bagian meja Jona, aku tersenyum sendiri mendapati kotak hitam kecil itu masih tergeletak di sana.
Ah, anak-anak ini…! Ada kegembiraan merasuki batinku mendapati kepolosan dalam diri mereka yang mana sesungguhnya adalah sebuah pelajaran tentang kejujuran yang tak ternilai harganya. Ya, bukan tentang berapa harga dari isi pensil mechanical itu, tapi mereka yang masih begitu kecil saja telah mengerti untuk tidak mengambil barang apa pun yang bukan miliknya, sekecil apa pun!  
Saat ini, seberapa sering telah kita jumpai orang-orang yang mengupayakan berbagai cara untuk menjadikan milik orang lain sebagai miliknya sendiri? Kasus korupsi yang marak terjadi, selalu disebabkan adanya setitik ketamakan dalam hati individu terkait; adanya keinginan untuk memeroleh apa yang bukan hak milik sendiri, lantas mengupayakan berbagai cara untuk mencapai tujuan itu.
Jona dan Jimmy, secara langsung telah mempraktekkan ilmu kejujuran dalam kehidupan mereka sejak dini; tidak mengakui apa yang bukan miliknya; tidak menyimpan apa yang bukan miliknya; menolak menerima apa yang bukan haknya; malu untuk bersikap tamak; dan takut akan akibat mengambil apa yang bukan miliknya.
Ya, pada dasarnya, perasaan malu dan takut untuk berbuat yang tak semestinya, adalah sumber dari kebahagiaan kita semua. Tak ada kehidupan yang lebih tenang daripada kehidupan dengan dilandasi kejujuran, kepada diri sendiri dan kepada Tuhan.
Kita semua, yang telah dewasa; yang berpendidikan tinggi; yang berpangkat; yang berkedudukan; yang berkuasa, adakah telah berlaku lebih baik dari Jona dan Jimmy, anak-anak usia Sekolah Dasar itu?

Liven R,   Agustus 2013